Gagalnya Kantin Kejujuran


Kegagalan program Kantin Kejujuran, sebagaimana pernyataan Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat Komisi Pemberantasan Korupsi Dedie A Rachim, baru-baru ini, sebenarnya tidak mengejutkan. KPK menyadari, upaya memberantas praktik korupsi di Tanah Air memang berat, sehingga upaya-upaya preventif melalui pendidikan moral dan mental antikorupsi perlu dilakukan sejak dini.

Target utamanya sekolah dan intansi pemerintah. Hingga kini sudah didirikan 4.000 kantin kejujuran di berbagai jenjang sekolah, namun hasilnya masih memprihatinkan.Mananamkan kejujuran sejak dini dalam lingkungan sehari-hari, menjadi salah satu terapi preventif untuk menekan budaya korupsi.
Dengan keyakinan akan resep itu, Kejaksaan Agung sejak beberapa tahun lalu, meluncurkan program Kantin Kejujuran. Kantin ini sesungguhnya merupakan ide hebat, namun hasilnya justru banyak yang merugi, bahkan bangkrut. Yang memilukan, Warung Kejujuran di Gedung KPK pun merugi, sehingga para petinggi KPK terpaksa patungan untuk menutup kerugian. Jadi apa yang sebenarnya mengendalai?

Kegagalan Kantin Kejujuran makin membukakan mata hati kita tentang persoalan mental dan moral bangsa; betapa sikap tidak jujur dan korup telah mengontaminasi seluruh lapisan masyarakat, tak terkecuali generasi anak-anak kita di bangku sekolah. Bahkan ada pendapat sinis, kantin itu justru memberi peluang anak untuk praktik korupsi, dan menandai ”korupsi dini”.

Pada sisi lain, kegagalan ini menyadarkan kita, cara terbaik menanamkan kejujuran adalah dengan memberi teladan. Jangan berharap anak bisa berlaku jujur di sekolah, jika para orang tua dan guru terbiasa curang.Korupsi di Indonesia ibarat kanker, sedikit demi sedikit menggerogoti sendi-sendi kehidupan bangsa. Daya tularnya demikian hebat, menjalar dan tumbuh subur hampir di semua tempat.

Secara horisontal korupsi sejak lama merusak ranah kekuasaan di semua lembaga: legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Secara vertikal pun mengalir dari korupsi terpusat menjadi korupsi terdesentralisasi ke daerah. Seolah-olah tidak ada obat mujarab untuk memberantas realitas itu. Antara ikhtiar pemberantasannya dan kemaharajalelaannya berjalan beriring.

Dahulu diyakini, korupsi terjadi karena alasan ekonomi; gaji terlalu minim untuk mencukupi kebutuhan hidup. Tetapi sekarang, pelakunya justru orang-orang yang berkecukupan. Menurut Susan Rose-Ackerman, alasan mendasarnya adalah faktor budaya. Ini sejalan dengan pemikiran Prof Koentjaraningrat (alm), 30 tahun lalu, bangsa ini memiliki mentalitas menerabas, bernafsu mencapai tujuan secepat-cepatnya tanpa jerih payah. Aspiannor Masrie pun yakin, korupsi tumbuh subur karena sikap mental malas, tidak mau bekerja keras, dan selalu mengambil jalan pintas.

Pemberantasan korupsi tidak hanya menuntut pendekatan hukum, tetapi juga moral sedini mungkin. Bagaimana membangun mentalitas antikorupsi yang berpengaruh besar terhadap keberhasilan menekan korupsi, dengan menanamkan nilai-nilai moral, budi pekerti dan agama sejak anak usia dini. Pendidikan menjadi kunci, seiring dengan peran guru, orang tua, dan lingkungan memberi teladan berperilaku antikorupsi. Intinya, membiasakan anak berperilaku jujur sebagai fondasi pembentukan sikap antikorupsi sedini mungkin.

Dikutip dari Harian Suara Merdeka, 6 Mei 2010

Jujur karena malu kepada Allah SWT.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: “Malulah kamu kepada Allah dengan sebenarnya. Ibnu Mas’ud berkata: Kami berkata: “Wahai Nabi Allah, kami sungguh malu!” Nabi saw berkata: “Malu itu bukanlah demikian. Orang yang malu kepada Allah dengan sebenarnya hendaknya menjaga kepala dan yang berada di sekitar kepala; menjaga perut dan apa saja yang masuk ke perut; menjaga kemaluan, dua tangan, dan dua kaki. Dan hendaklah ia mengingat mati dan kehancuran. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, niscaya ia meninggalkan perhiasan hidup di dunia dan lebih mementingkan akhirat dari pada dunia. Barangsiapa yang melakukan hal tersebut, maka sungguh ia telah malu kepada Allah dengan sebenarnya.”

Itulah malu kepada Allah swT menurut Rasulullah Saw. Apakah kita sudah melaksanakan seperti apa yang disabdakan oleh Rasulullah Saw. Malu untuk berbuat maksiat kepada Allah SwT. Malu untuk memberikan rizki yang tidak halal kepada anak dan istri seperti dengan cara berbuat korupsi, mencuri. Malu untuk berbuat curang demi keuntungan pribadinya, seperti memberi suap untuk mendapatkan mega proyek, memberi suap dalam kasus hukum agar terbebas dari hukum dan pihak yang tidak bersalah justru mendapatkan hukuman. Malu untuk berbuat zina, malu melakukan pemerkosaan, dan malu untuk melakukan beragam kemaksiatan.

Dalam hal ini Rasulullah Saw bersabda, “Malu kepada Allah adalah bagian dari Iman”. Sehingga orang yang malu kepada Allah berarti orang tersebut beriman kepada Allah SwT. implikasi dari sikap malu kepada Allah SwT ini jika kita melihat ke dalam kehidupan muamalah antar manusia, maka ketentraman di dunia ini akan tercipta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: