Potensi perikanan


Rasanya senang punya kolam ikan disamping rumah. Bisa untuk hiburan ketika pulang kerja, atau ketika sepi nggak ada kegiatan lain. Apalagi kedengaran suara gemercik air, meski dari pompa sirkulasi. Apalagi kalo isi kolam udah siap panen, tinggal bawa pancing, mancing ikan seperlunya untuk tambahan lauk.
Sebenarnya potensi perikanan di DIY sekarang makin besar, apalagi di Kabupaten Sleman sampai Bantul sebelah utara, yang banyak tersedia saluran irigasi yang memadai. Hampir sepanjang musim tidak pernah kekurangan air.
Seperti di uraiakan oleh Guru Besar Fakultas Pertanian, Prof. Dr. Ir. Dwidjono Hadi Darwanto, S.U., bahwa terjadi defisit produksi perikanan yang cukup besar di DIY. Kebutuhan akan ikan yang cukup tinggi tidak diiringi dengan tingkat produksi ikan yang memadai. “Konsumsi ikan per kapita di DIY sebenarnya relatif jauh di bawah standar badan pangan dunia. Namun begitu, masih saja terjadi defisit yang cukup besar. Padahal, dari tahun ke tahun konsumsi ikan masyarakat DIY mengalami peningkatan,” kata Dwidjono, Kamis (23/9), di Fakultas Pertanian UGM.

Data Kantor Statistik dan Dinas Perikanan dan Kelautan DIY tahun 2008 menunjukkan konsumsi ikan di Provinsi DIY hanya 17,03 kg/kapita/tahun. Padahal, standar FAO adalah 25,03 kg/kapita/tahun. Kebutuhan akan ikan per tahunnya mencapai 59.068,7 ton, sementara produksi ikan per tahunnya baru mencapai 17.764,6 ton. “Jadi, di DIY mengalami defisit produk perikanan sebesar -41.303,98 ton per tahunnya,” ungkap Dwidjono dalam seminar bertajuk “Pembangunan Pertanian-Perikanan Secara Terpadu di DIY”.

Dwijono mencontohkan kebutuhan konsumsi ikan lele di DIY mencapai 15 ton per hari. Sementara itu, produksi per hari baru sekitar 5 hingga 6 ton. “Produksi ikan saat ini baru bisa mencukupi kurang dari separuh kebutuhan akan ikan. Jadi, dibutuhkan upaya-upaya guna meningkatkan produksi perikanan agar bisa mencukupi keseluruhan kebutuhan ikan di DIY,” jelasnya.

Lebih lanjut dikatakan Dwidjono, pengembangan perikanan budidaya merupakan salah satu usaha yang bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan akan ikan. Namun demikan, pengembangan budidaya perikanan di DIY masih saja terkendala oleh persoalan keterbatasan area karena laju konversi area pertanian yang cukup tinggi. www.ugm.ac.id
Ikan yang cocok
Untuk konsumsi, memang tergantung selera, ada ikan nila, ikan gurami dan ikan mas. Namun dari ketiga ikan diatas yang aku pelihara dalam kolam, ikan nila yang menjadi favorit karena disamping dagingnya gurih, tebal juga tidak memiliki duri halus tidak seperti ikan mas.

Daging ikan nila mirip daging ikan gurame, hanya lebih gurih rasanya dan dalam 1 tahun dapat berkembang cepat hingga seberat 1,3 – 2 kilogram. Ikan nila dapat dikonsumsi dengan digoreng, bumbu acar atau dibakar.

Untuk nila bakar, terasa nikmat bila dimakan dengan bumbu kecap. Ikan dibakar diatas bara dengan api kecil. Sedikit lumuri ikan dengan minyak goreng atau mentega. Ikan tersebut dengan dijepit kawat panggangan dapat diisi lebih dari 1 ekor pada tiap bakaran.

Bumbu kecap ikan bakar cukup sederhana, terdiri dari cabe rawit, bawang merah, jahe, tomat kecil, garam dan jenuk nipis. Bagi yang kurang suka dengan aroma bawang merah dapat digoreng terlebih sebelum diulek. Setelah bahan-bahan tersebut diulek, aduk dan tambahkan kecap manis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: