Trend Memeluk Islam di Inggris


Meningkatkanya wanita berpendidikan di Inggris yang memeluk Islam menghancurkan mitos penindasan Islam atas kaum wanita
Masuk Islamnya Adik ipar mantan Perdana Menteri (PM) Inggris Tony Blair, Lauren Booth, menjadi bahan pembicaraan hangat di Inggris. Brice, dari Swansea University, mengatakan setiap perempuan kulit putih yang masuk Islam punya cerita yang berbeda, tapi memiliki satu tema yang sama yaitu persepsi bahwa Islam menawarkan perlindungan terhadap perempuan dan memberikan rasa identitas.

Kevin Brice, seorang pakar Swansea University yang meneliti orang kulit putih yang masuk Islam di Inggris, menemukan wanita kulit putih terdidik lebih cenderung masuk Islam daripada kelompok-kelompok lain. Kevin Brice mengatakan ada sekitar 60 banding 40 yang mendukung perempuan masuk Islam, dan mereka cenderung menampilkan “profil pendidikan yang lebih baik” daripada populasi rata-rata. Terdapat pula peningkatan jumlah perempuan muda yang berpendidikan universitas yang masuk Islam di usia dua puluhan dan tiga puluhan. “Mereka mencari spiritualitas, arti kehidupan yang lebih tinggi, dan cenderung menjadi pemikir yang mendalam,” ujar Brice

Pada sensus tahun 2001, ada 30.000 orang Inggris yang masuk Islam. Menurut Brice, angka ini sekarang mendekati 50.000, dimana mayoritasnya adalah kaum wanita. Jumlah wanita yang masuk Islam melebihi jumlah laki-laki yang masuk Islam pada kebanyakan negara-negara Barat. Di Amerika, wanita merupakan 75% dari jumlah semua orang yang pindah agama tersebut (menurut Dewan Hubungan Amerika-Islam atau Council on American-Islamic Relations).

Brice menambahkan tema umum dalam pindah agamanya para wanita di Inggris adalah bahwa Islam menawarkan perlindungan kepada perempuan dan rasa identitas. Uniknya, wanita yang pindah agama itu lebih mungkin untuk memakai pakaian muslimah daripada mereka yang terlahir muslim. “Melalui pemakaian pakaian yang sederhana, dengan semua cara untuk berjilbab, hal ini tidak lagi tentang bagaimana Anda terlihat… Sudah mulai terbebas dari ide bahwa Anda ditentukan oleh ukuran baju Anda,” tambah Brice

MeruntuhkanMitos

Dr Nazreen Nawaz, Perwakilan Muslimah Hizbut Tahrir Inggris menyatakan , “Selama berabad-abad subjek wanita dan Islam telah diliputi penyesatan informasi, kesalahpahaman, dan salah pengertian. Di banyak negara Barat, ide Islam menindas perempuan seakan-akan telah menjadi fakta yang tak terbantahkan. Namun tren yang terus tumbuh masuk Islamnya para wanita berpendidikan di Barat telah meruntuhkan mitos itu tentang tentang perlakuan semena-mena Islam atas kaum wanita. Hal ini meruntuhkan cerita-cerita yang populer di Barat yang menempatkan Islam sebagai antitesis hak-hak wanita wanita modern, dan terpelajar. ”

Nazreen menambahkan bagi orang-orang yang bisa keluar dari mitos akibat tuduhan-tuduhan negatif terhadap Islam ( yang gencar dilakukan para politisi, wartawan, akademisi) dan orang-orang yang mempelajari agama dengan independen, tulus, dengan pikiran tidak memihak, akan menemukan suatu keyakinan yang menanamkan perasaan tentang tujuan hidup manusia, yang jauh dari kehidupan hedonistik dan materialistik.

Mereka akan menemukan Islam sebagai ideologi yang mengangkat status wanita dalam masyarakat dan yang mewajibkan bahwa mereka selalu diperlakukan dengan hormat oleh kaum laki-laki; suatu sistem yang berdiri sebagai antitesis dari kapitalisme dan eksploitasi seksual dan penilaian rendah atas wanita untuk meningkatkan margin keuntungan. Suatu cara hidup yang mendefinisikan martabat wanita sebagai sesuatu yang suci, yang melarang menjadikan wanita sebagai obyek dan komoditas nafsu kaum laki-laki, dan yang memelopori persamaan hak kewarganegaraan bagi kaum wanita sejak 1400 tahun yang lalu

Berbeda dengan istilah ‘penindasan (subjugation)’ yang sering dikaitkan dengan pakaian jilbab, wanita muslimah yang memakai pakaian itu justru melihat jilbab sebagai pembebasan. Membebaskan mereka dari nilai harga diri yang ditentukan berdasarakan ukuran pinggang mereka, bentuk tubuh mereka, dan menurut pandangan (seksual) orang lain.

Pakaian muslimah membebaskan mereka dari batasan masyarakat liberal sekuler belenggu standar keindahan kaum wanita dan fashion, di mana menjadi gemuk atau terlihat tua dipandang sebagai kejahatan. Mitos kecantikan yangmembuat wanita menjadi tidak realistis dan melumpuhkan harga diri untuk mengejar ‘standar kecantikan semu’ : wanita sempurna tanpa cacat secara fisik.

Pakain muslimah (jilbab dan kerudung) menurut Nazreen justru memberdayakan wanita dengan lebih memfokuskan pada hal-hal penting diluar penampilan fisik. Memusatkan pemberdayaan wanita untuk meningkatkan intelektualistas dan keterampilan wanita. Bukan disibukkan oleh tubuh mereka. “Mitos kecantikan liberal Barat justru mencerminkan keyakinan bahwa penampilan seorang wanita- bukan kemampuannya- sebagai paspor menuju sukses. ” tegas Nazreen.

Tren peningkatan yang ‘tak terbantahkan’ atas meningkatnya kaum wanita terdidik yang masuk Islam di Barat tentu saja paling tidak memberikan manfaat untuk mengkritisi stereotip negatif yang dominan sekitar perlakuan Islam terhadap perempuan. Kebohongan atas masalah ini selama berabad-abad perlu segera diatasi, karena sebagaimana yang sering terjadi masalahnya adalah kebenaran yang telah tersembunyi jauh tertanam di bawah propaganda negatif.

Namun yang terpenting adalah mewujudkan sistem nilai alternatif bagi liberalisme sekuler unttuk untuk mengatasi perlakuan tidak hormat dan pelanggaran secara global yang dihadapi kaum perempuan. “Sistem alternatif itu adalah adalah Khilafah Islam yang akan menerapkan syariat Islam, bukan yang lain !” ujar Nazreen. (farid wadjdi, dari berbagai sumber)

Surat Terbuka Lauren Booth, Ipar Tonny Blair: Mengapa Saya Memilih Islam?

Mungkin apresiasi saya atas budaya Islam, terutama pada perempuan Muslim, yang menarik saya untuk mengapresiasi Islam. Perempuan Islam yang saya lihat di Inggris adalah yang menutup seluruh tubuhnya dari kepala hingga ujung kaki, kadang berjalan di belakang suami mereka, dengan anak-anak berbaju panjang di sekitar mereka.

Ini sungguh kontras dengan kondisi wanita profesional Eropa yang umumnya sangat memperhatikan penampilannya. Saya, misalnya, sangat bangga dengan rambut pirang saya, dan ya, belahan dada saya. Ini seolah menjadi “jualan” utama kami.

Saat bekerja di dunia broadcast televisi, betapa hal itu makin jelas terasa: presenter wanita menghabiskan waktu hingga satu jam untuk merias wajah dan penampilan mereka, hanya untuk membahas satu topik “serius” yang memakan waktu tak lebih dari 15 menit. Apakah ini sebagian bentuk liberation? Saya mulai bertanya-tanya seberapa banyak penghormatan bagi gadis-gadis dan perempuan dalam masyarakat “bebas” kita.

Pada tahun 2007 saya pergi ke Libanon. Saya menghabiskan waktu empat hari bersama para mahasiswi di sana, sebagian dari mereka mengenakan cadar. Mereka tetap tampak menawan, mandiri, dan bebas berpendapat. Mereka semua bukan gadis yang pemalu, atau mereka akan segera dipaksa untuk menikah, seperti yang sering kita dengar di Barat.

Kini saya menjalin hubungan dengan beberapa masjid di North London, dan saya pergi ke sana setidaknya sekali seminggu. Saya tidak mengkotakkan diri saya apakah saya seorang Syiah atau Sunni. Bagi saya, hanya ada satu Islam dan satu Allah.(dikutib dr Hizbut Tahrir Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: